Kamu Tidak Kalah

Halo! Bagaimana kabarmu? Tidak terasa ya, kita sudah mau mengakhiri bulan pertama di tahun 2021.

Kalau dibilang takut, sepertinya kita semua hampir takut menghadapi tahun 2021. Apalagi mengingat banyak sekali tantangan yang terjadi di tahun sebelumnya.

Menurutku pribadi, tahun 2020 adalah tahun yang penuh tantangan. Kalau digambarkan dengan peribahasa, mungkin “Sudah jatuh tertimpa tangga” adalah hal yang tepat untuk menggambarkan pengalaman hidupku.

Ada beberapa hal yang membuatku merasa gagal dalam menghadapi tahun 2020: Pertama, aku kehilangan kontrol selama pandemi. Semua rencanaku bisa dibilang berantakan dan gagal. Aku bahkan menyalahkan diri sendiri karena tidak begitu fleksibel dalam menyesuaikan diri terhadap pandemi ini.

Kedua, aku tidak diterima di tahap akhir seleksi sebuah program beasiswa. It didn’t have to be a big deal, but it is. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Aku menyiapkan diri dengan sepenuh hati, belajar mengenai soal-soal yang mungkin keluar saat seleksi, sampai mempersiapkan jawaban untuk proses wawancaraku.

Worst of all, it seemed like I lost all of my connections. Aku mulai merasa terasing dari semua relasiku. I can’t really describe this, tapi aku rasa setiap teman-temanku memang memiliki tanggung jawabnya masing-masing di rumah.

Untuk merangkum keseluruhan pengalamanku, sepertinya aku dapat menyimpulkan bahwa aku kalah.

Credit to Fox

Aku tidak tahu, bagaimana dengan kamu. Tapi, kalau kamu merasa kalah dalam perjalanan hidupmu, aku mau menekankan bahwa kamu tidak sendiri.

Tapi, tentu persepsi ini tidak bisa terus menerus kita terapkan. Ketika kita mendiskreditkan diri dengan menyalahkan diri kita, secara tidak langsung, kita belum berhasil menerima diri sendiri. Mengapa demikian?

Menurut Becker-Phelps dalam artikelnya, ketika seseorang memiliki persepsi negatif mengenai dirinya, mereka akan lebih mudah merasa gagal ketika diperhadapkan dengan tantangan. Kegagalan yang terjadi hanya menjadi bukti pendukung bahwa mereka adalah sebuah kegagalan.

Selain itu, persepsi ini juga muncul karena kita lebih berfokus pada apa yang kita lakukan, dan bukan pada keseluruhan eksistensi diri kita. Coba bayangkan, ketika kamu berusaha untuk dapat nilai A dalam sebuah ujian, kamu pasti akan belajar mati-matian. Tapi, ternyata kamu malah mendapatkan nilai B. Kalau kamu adalah orang yang berfokus pada kegiatanmu, yaitu “proses belajar yang sudah mati-matian”, maka kamu akan menyalahkan diri sendiri. Sebaliknya, kalau kamu memiliki fokus untuk menghargai dirimu, maka kamu akan berkata “Tidak apa-apa aku dapat nilai B. Toh, aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Lagipula hasilnya tidak seburuk itu kok.”

See the difference? Kalau begitu, mungkin sekarang kamu bertanya-tanya, apa saja yang bisa kamu lakukan untuk berhenti merasa kalah dan gagal?

Jawabannya sederhana, yaitu belajar cintai dirimu sendiri.

Credit to its owner

Aku selalu ingat pepatah “Love yourself first and everything falls into line” atau “Love yourself first and the rest will follow.” Kadang, aku berpikir bahwa pepatah ini sangat klise. Tapi, realitanya memang demikian. Ketika aku belajar untuk percaya dengan kapasitas diriku dan menerima setiap kekuranganku, aku jadi sosok yang lebih percaya diri. And it makes me the happiest human alive. Aku tidak merasa kalah ketika menghadapi tantangan-tantangan yang ada. Malahan sebaliknya, aku bisa lebih menikmati suka-duka yang terjadi.

Pada akhirnya, aku ingin mengingatkan bahwa kita memang tidak memegang kontrol atas apa yang terjadi dalam hidup. Tapi, kita memegang kontrol atas diri kita.

Kamu memegang kendali atas pikiranmu, perbuatanmu, dan keputusanmu.

Sekarang, apa yang akan kamu pilih?

Aku harap, kamu memilih untuk mulai mengapresiasi dan menyayangi dirimu. Karena teman, kamu tidak kalah. In fact, kamu adalah pejuang paling berani yang pernah aku temui.

Melalui Seorang Anak

Minggu lalu, keluargaku baru saja kehilangan musang peliharaan kami. Musang yang telah menjadi bagian dari keluarga kami selama tiga bulan terakhir. Aku tidak pernah menyangka seberapa besar ikatan yang terbentuk antara seekor musang dengan gadis kecil berusia 6 tahun.

Musang kami meninggal secara tiba-tiba, kemungkinan besar akibat distemper yang kerap kali terjadi pada hewan peliharaan. Adikku adalah orang pertama yang menemukan tubuh hewan kesayangannya.

Awalnya, Adik berpikir bahwa musangnya sedang bercanda, karena tak kunjung bangun saat disentuh berkali-kali. Ia tertawa dan berkata kepada Ayah, “Yah. Masa Covi sedang bercanda.”

Ayah lalu mengambil Covi, musang kami, dari kandangnya dan mengelus kepalanya. Aku lihat Ayah terdiam karena ia tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Adik masih memerhatikan Covi dengan mata yang penuh tanya.

“Covi sudah meninggal, Dik,” ucap Ayah. Adik masih diam saja karena ia tidak mengerti apa maksud dari kata meninggal. “Yuk, kita kubur,” Ayah melanjutkan.

“Kalau dikubur, kapan Covi bangunnya, Yah?” tanya Adik dengan polos.

Hal ini menamparku dengan keras. Gadis kecil ini masih berharap bahwa peliharaan kesayangannya akan bangun kembali. Ia mengelus-ngelus Covi sampai Ayah datang membawa sebuah kain dan membungkus tubuh Covi.

Harapan seolah-olah hilang dari mata Adik. Ia mulai menangis sejadi-jadinya, tapi ia tidak mengerti kesedihan yang ia rasakan. Yang ia tahu, separuh hatinya akan pergi dalam waktu yang lama. Ia tak sadar bahwa kepergian ini bersifat permanen.

Aku tak kuasa menahan kesedihan melihat Adikku yang masih belum mengerti apa yang terjadi. Selagi kami menguburkan Covi di halaman rumah, diantara sela-sela ratap tangis Adikku, Ayah mulai menitikkan air mata.

Ini terlalu menyedihkan bagi keluarga kami, pikirku. Apa yang dapat kulakukan sebagai seorang anak dan kakak?

Aku memeluk Adikku erat-erat dan berusaha menenangkannya. Aku harap aku dapat mengambil kesedihan dan rasa sakit yang ia rasakan, tapi aku tidak mampu.

Aku hanya bisa berada di dekatnya.

Awalnya, memang sulit sekali untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Adikku belum bisa menerima bahwa Covi telah pergi. Tapi, ia mulai belajar untuk maju.

Aku tidak dapat menjelaskan bagaimana ia bisa bertahan melalui semua yang sudah terjadi. Gadis kecil ini tetap keluar rumah di sore hari untuk bermain, ia tidak ragu untuk menceritakkan proses kehilangan yang ia alami kepada teman-teman sebayanya. Saat ia kembali memikirkan Covi, ia keluar memetik bunga liar dan menaburkannya di atas makam.

Melalui gadis ini, aku belajar bahwa kesedihan, seburuk apapun itu memang wajar untuk dialami. Melalui Adikku, aku juga belajar bahwa melanjutkan hidup adalah solusi yang terbaik.

It may be sad for a while, but life must go on.

.

Rest in Peace, Covi. We miss you!PicsArt_09-01-02.22.30

Banding Membanding

Nyatanya, sulit sekali untuk berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Apalagi di masa ketidakpastian seperti ini. Setiap melihat unggahan orang lain di media sosial, pasti ada hal-hal yang membuat iri dan mungkin rasa menyalahkan diri sendiri.

Aku melihat orang lain dengan leluasa jalan-jalan, makan-makan, belajar hal baru, dan  mendapatkan pekerjaan, beserta semua hal yang berkaitan dengan kata “sukses dan bahagia.” Sedangkan, aku? Ah… Siapa yang tahu.

Semakin melihat hal yang katanya adalah “sukses dan bahagia”, semakin aku rendah diri. Padahal, ada juga hal-hal baik yang aku lakukan, seperti: Mengajarkan adik Bahasa Inggris, belajar memasak, dan menulis sebuah jurnal. Sesuatu yang belum pernah aku lakukan dan berhasil kulakukan di masa-masa seperti ini.

Jadi, kadar “sukses dan bahagia”-nya dimana?

Hanya subjektivitas belaka, bukan?

Aku ingat perkataan temanku, “Berhenti bandingin diri kamu sama orang lain. Kamu ya kamu. Kamu gak bisa dibandingin sama orang lain, kecuali kalau ada Rachel yang lain.” Lagipula, kalau kamu mengukur “sukses dan bahagia” dengan membandingkan dirimu dengan orang lain, kamu tidak akan pernah puas. Lebih buruk lagi, kamu akan selalu jadi musuh diri sendiri.

Memang tidak mudah buat berhenti banding membanding diri dengan orang lain. Ketika kamu mulai membandingkan diri, coba ingat lagi hal-hal kecil apa yang sudah kamu lakukan. Dan yang paling penting, jangan lupa untuk terus bersyukur dengan diri dan keadaanmu.

Semangkuk Es Campur

Biasanya, saat terik matahari tak tertahankan lagi, semangkuk es campur sangat cocok untuk mengatasi dahaga… Dan mungkin, tanpa aku sadari, aku mulai tersenyum simpul menikmati sensasi dinginnya es parut, manisnya buah semangka yang sudah dipotong kotak-kotak, dan kadang asamnya buah nangka yang terselip di beberapa sendok yang kusuapkan.

Tak hanya menemani hari-hari yang membuat badanku berkeringat tak karuan, semangkuk es campur juga menjadi teman saat hati sedang gundah gulana. Sesuap kuah susu kental manis dan sirup yang tercampur membuatku teringat akan hal-hal indah yang kualami. Sungguh manis.

Tak pernah kusangka, setelah menghabiskan sisa es campur, aku akan pulang dengan hati yang cukup lega dan dapat berpikir lebih jernih. Entah apakah ada psikotropika yang diselipkan ke dalam es campurku atau memang begitu rasanya.

Begitu pula tentang menjadi bahagia, seperti membuat keputusan untuk mampir ke warung es campur dan menikmati setiap cita rasa yang ada dalam semangkuk es tersebut.

Aku dan kamu, kita sama-sama memiliki pilihan untuk bahagia.

Setiap suapan yang kita makan, entah es parut, kelapa, potongan cincau, atau agar-agar berwarna merah muda, semua membawa kenikmatan di lidah kita. Sama hal nya dengan hidup, setiap peristiwa berpotensi untuk membawa kebahagiaan, asalkan kita memilih untuk menikmatinya.

Menjadi bahagia bukan tanggung jawab mereka yang ada di sekitar kita, itu semua adalah pilihan kita. Jadi, berhentilah untuk bergantung pada orang lain yang tak kunjung dapat membahagiakanmu. You are your own happiness.

Kindness Matters

Esensi dari menjadi manusia adalah bagaimana kita dapat membuat orang lain merasa berharga dan diterima. Bukan semata-mata “ada”, tetapi juga “bermakna”. Bagaimana cara kita untuk menjadi dampak bagi mereka yang berada di sekitar kita.

Empati merupakan keadaan menempatkan diri dalam posisi orang lain untuk memahami perasaan mereka seutuhnya. Hidup tidak sepenuhnya mudah bagi setiap orang, oleh sebab itu, kita perlu belajar untuk memahami kondisi di sekitar kita.

Permasalahannya, banyak dari kita yang peka akan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan seseorang, tapi kita enggan untuk berempati. Kita enggan untuk bertanya, “Apa yang sedang terjadi?” atau “Apa yang sedang kamu rasakan?” Padahal, tindakan sederhana, seperti: menyapa, tersenyum, dan menanyakan kabar orang lain, bisa jadi sangat esensial bagi kehidupan orang tersebut.

Worst case scenario, ketika seseorang sering mengunggah status yang mengindikasikan “depresi”, bisa jadi bahwa orang tersebut juga memiliki keinginan untuk bunuh diri. Bukan berarti orang tersebut sedang mencari perhatian, tapi mungkin memang begitu caranya untuk meminta pertolongan.

Bayangkan apa yang akan terjadi jika tidak ada seorangpun yang peduli untuk menanyakan kondisinya, mungkin ia akan mengambil keputusan terburuk. Even worse, kita yang tahu, ikut berperan dalam kematiannya.

Aku tahu bahwa beberapa orang seringkali butuh waktu untuk sendiri. Tapi, hal ini bukan sebuah alasan bagi kita untuk tidak bertindak. YES, kita beri mereka waktu untuk menyendiri, tetapi jangan lupa untuk keep in touch dengan mereka.

Jadi, aku ingin sekali mengajak kalian yang membaca untuk mengembangkan empati kita. Ketika kita merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan teman kita, luangkan waktu untuk menanyakan kabar mereka. Tunjukkan kepedulian kita dan jadilah sahabat bagi mereka.

A simple act of kindness could change someone’s life entirely.

Goodness of God

Sudah genap sepuluh hari aku diam di rumah. Corona hasn’t made it easy for me, dan belakangan aku banyak merasakan mixed-emotions. Sedih, senang, stress, dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku merasa emosiku cukup tidak stabil, jadi aku menarik diri dari group line atau whatsapp, walaupun rasanya aku benar-benar butuh orang lain.

Setiap malam, aku hampir tidak dapat tidur karena kepalaku dipenuhi oleh banyak sekali hal. Apa yang terjadi selanjutnya? Mengapa hal yang sudah kurencanakan sekarang berada di luar kendaliku? Apa yang harus kulakukan? Apakah persiapan yang aku lakukan selama ini tidak maksimal? Ada apa, sih, sebenarnya dengan diriku?

I feel like I don’t deserve it.

Aku tidak pantas untuk berada di posisi ku sekarang.

Rasanya, malam terasa panjang untuk dilalui dan aku kembali menjadi diriku yang sebelumnya,  the sad me. Aku menangis dalam doa, bahkan saat hendak tertidur. Dua hal, antara keinginan untuk menjadi sosok yang tegar dan tidak mudah sedih, serta keinginan untuk mengekspresikan emosi, saling berdebat dalam diriku.

But, I know better to let it all out. 

Aku tetap kuat, bahkan dalam kondisi terpurukku sekalipun.

Ketika sedang saat teduh, aku membaca Mazmur 73. Saat aku membaca ayat 21 dan seterusnya, aku seolah-olah seperti sedang disadarkan akan sesuatu,

73:21 Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, 73:22 aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. 73:23 Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. 73:24 Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.

bahwa dalam kondisi terpuruk kita, bahkan saat kita merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa, Tuhan tetap memegang tangan kita, selama kita berada dekat dengan Tuhan.

Tidak hanya melalui Mazmur yang aku baca, aku juga kembali dikuatkan dengan lagu yang pernah dibawakan tetapi tidak pernah aku cerna liriknya. Tuhan adalah pembuat jalan, pelaku mujizat, Ia selalu menepati janjinya, dan selalu menerangi jalan kita. Semua nya konsisten Dia lakukan, walaupun kita tidak melihatnya.

Tuhan selalu setia dalam hidup kita. Tidak peduli apa yang terjadi di masa lalu, atau apa pergumulan yang sedang kita hadapi saat ini, Tuhan Yesus jauh lebih besar.

Percaya saja.

Imani saja.

Jangan lupa untuk terus berserah pada Tuhan, karena pertolongan sejati hanya datang dari-Nya.

.

Thank you for reading this, Tuhan Yesus memberkati.

 

Kamu, ya, kamu.

Selama kuliah di jurusan Psikologi setelah beberapa semester. Aku belajar satu dua hal, tidak hanya tidur di kelas adalah sesuatu yang nikmat atau deret bangku paling belakang adalah tempat terasik untuk berbincang-bincang dengan teman, tetapi aku belajar mengenai penerimaan diri.

Kata orang, kuliah di jurusan Psikologi itu untuk orang yang mau berobat jalan. Setelah dipikirkan kembali, benar juga. Tapi aku lebih suka tidak menyebut hal ini sebagai sistem berobat jalan, melainkan proses perubahan perspektif.

Jika ditinjau, mengapa orang-orang atau saya merasa sulit untuk melakukan acceptance, jawaban paling atas mungkin saja karena kita seringkali memikirkan perkataan orang lain.

Sebagai gadis yang tumbuh dengan prestasi cukup baik (gak pamer kok!), aku merasa cukup tertekan dengan ekspektasi-ekspektasi orang. Bahwa aku seharusnya bisa mendapat peringkat satu ujian nasional, aku seharusnya menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri, atau aku seharusnya mendapat IPK 4. Bahkan, aku seharusnya bisa menjadi seseorang yang lebih daripada mahasiswi psikologi, jadi mahasiswi calon arsitek, mungkin?

Tapi, memang hidup tidak pernah selalu baik, terkadang ada saatnya kita berada dibawah dan tidak bisa memenuhi ekspektasi atau harapan orang lain tentang kita. Jadi, yang aku lakukan ketika nilai ujian nasionalku tidak sebagus orang lain adalah menerima apa adanya. Dan dari penerimaan ini, aku mendapatkan suatu perspektif baru, bahwa tidak semua hal dipengaruhi nilai. Dalam dunia pekerjaan, manner juga penting. So I embrace it, dan aku bisa hidup jauh lebih tenang dengan nilai ujian nasionalku yang kurang memuaskan.

Sama hal-nya ketika diperhadapkan dengan hal-hal seperti, pertanyaan “Kok, kamu gendutan sih?”, “Masa mahasiswi gak bisa dandan?”, atau tuntutan-tuntutan sosial yang membuat kita merasa lebih buruk daripada orang lain. Hal yang perlu dilakukan juga sama, menerima diri kita apa adanya.

Salah satu materi kuliah yang aku ingat adalah PERMA. PERMA merupakan salah satu pedoman untuk hidup bahagia, yang terdiri dari Positive Emotion, Engagement, Relationship, Meaning, dan Achievement. Pedoman utama untuk hidup lebih bahagia adalah adanya emosi positif, seperti: gratitude, forgiveness, mindfulness, optimism, dan hope.

Gratitude dan forgiveness adalah sesuatu yang dilakukan di masa lalu, mindfulness adalah sesuatu yang dilakukan untuk masa kini, dan optimism serta hope adalah sesuatu yang dilakukan untuk masa depan. Kesimpulan yang aku dapat adalah bahwa untuk melangkah kedepan, kita harus bisa bersyukur dan memaafkan diri kita sendiri.

Kita bisa bersyukur dari hal-hal yang sederhana, bersyukur atas eksistensi kita dalam semesta, bersyukur atas orang tua, bersyukur atas kondisi kita saat ini bahkan ketika keadaan kita sedang buruk. Seorang teman pernah berkata, bahwa dalam kondisi apapun, pasti masih ada hal-hal yang bisa disyukuri. Terlebih lagi, kita harus bisa memaafkan diri kita karena terlalu sering mendengar pendapat orang lain, memaafkan diri kita karena sering menahan rasa lapar untuk dibilang kurus, memaafkan diri kita karena pernah menyakiti diri kita sendiri.

Once, we’re able to do this, kita akan dapat menerima diri kita apa adanya. Selalu tanamkan dalam diri bahwa

Aku berharga,

Aku bermakna,

dan Aku adalah salah satu bagian yang mewarnai indahnya semesta.

.

Aku, ya, Aku.

 

 

 

 

((credits to Martin Seligman for inspiring positive psychology))

 

Harap

Aku mau minta maaf atas apa yang terjadi.

Maaf, kalau aku takut untuk bersapa. Tidak mudah rasanya untuk meluapkan perasaan, dan berpura-pura kalau aku baik-baik saja.

Karena memang harapan selalu bertolak-belakang dengan realita.

Melihat bayangan mu saja, aku sudah kalut. Aku berimajinasi mengenai skenario-skenario yang akan terjadi jika aku menyapamu, dan tidak semua nya baik.

Jadi aku bungkam, menghindarimu, dan berpura-pura kalau aku tidak peduli terhadap keberadaanmu, walaupun hal itu meresahkanku.

Ingin sekali aku mengabaikan egoku dan mencairkan suasana yang ada di antara kita. Paling tidak, menyelesaikan apa yang sudah terjadi.

Tapi aku tidak bisa.

Rasanya, aku sudah mengerjakan bagianku. Dan mungkin, lebih baik aku menunggumu menyelesaikannya.

Aku harap, kamu bisa memberikanku sepatah atau dua patah kata.

Bye, zona nyaman!

Suatu ketika, saat sedang mengikuti mata kuliah, seorang teman yang duduk di samping ku menanyakan sesuatu,

“Kamu masuk organisasi karena suka atau ingin keluar dari zona nyaman?”

Pertanyaan ini menghentikanku dari aktivitas yang sedang kulakukan. Benar juga, kalau dipikir-pikir, apa motivasi ku ikut organisasi?

Sebagian besar orang mungkin akan menjawab untuk mencoba hal baru, atau yang menurut teman ku,

keluar dari zona nyaman.

It’s a good thing, karena sebagai manusia yang mengetahui kekurangan diri sendiri, kita berani untuk meminimalisir hal itu dengan keluar dari cangkang kita.

Hanya saja, kadang kita hanya bermodalkan keinginan tanpa persiapan. Apa jadi nya kalau lingkungan yang dihadapi tidak sesuai dengan ekspektasi? Apakah kita akan berkata, “Sudah cukup, aku tidak mau lagi”? Atau mungkin melakukan setiap aktivitas tanpa sukacita sampai-sampai kita lupa bahwa diri kita juga penting?

Ketika kita memutuskan untuk keluar dari zona nyaman, kita memutuskan diri kita untuk di proses. Oleh sebab itu, sebelum keluar dari cangkang kita, persiapkan mental terlebih dahulu.

Proses yang dialami, seringkali tidak mengenakkan. Satu-satunya kunci untuk menikmati fase ini adalah dengan bersyukur.

Syukuri setiap proses yang Tuhan izinkan untuk kita lalui. Nikmati proses nya. Ketika kita melandasi nya dengan rasa bersyukur, kita tidak akan menyerah di tengah jalan dan akan lebih menghargai diri kita sendiri.

Ingat baik-baik,

Hidup itu proses dan proses itu indah.

Perihal Rasa

Aku tak pernah paham bagaimana perasaan seseorang terhadap sesama bisa berubah. Apakah otak kita sedang bermain dengan rasa, atau memang semua terjadi begitu saja. Tanpa sengaja.

Awalnya berasal dari mata, lirik-lirik dengan penuh tanya. “Siapa dia?” Rasa penasaran terjawab ketika satu dua kata mulai tertutur. Lama-lama, perasaan hangat muncul, saat eksistensi nya terasa lebih nyata di cakrawala.

Perasaan hangat serta eksistensi nya. Sungguh, sebuah kombinasi yang menenangkan. Kala angin ribut menantang kalbu, ingin sekali ku berlabuh pada nya.

Memang klise.

Tapi masa lalu menjadikanku enggan membangun asa. Trauma, mungkin. Hal pertama yang ku sadari perihal rasa adalah kamu tidak dapat membangun pertahanan untuk menjauhkan diri dari merasa. Rasa akan tetap datang, siap ataupun tidak.

Aku tidak pernah siap, namun aku bertekad merangkul perasaanku. Tidak mudah memeluk rasa yang selalu menjadi musuh mu. Paling tidak, aku telah mencoba.

Hal kedua perihal rasa adalah saat kamu membiarkan semua mengalir dalam nadi, rasa menyatu dengan keberadaan mu. Sepertinya hanya dia yang berotasi di hidup mu, sampai-sampai pikiran mu selalu berusaha mencari diri nya.

Seringkali hanya kamu yang kau temukan, tapi kamu tetap mencari di tengah kekosongan. Ketika hasil nya nihil, kamu menyalahkan diri sendiri. Kamu menyalahkan rasa. Aku menyalahkan rasa.

Aku ingin sekali menumpahkan seluruh rasa yang terpendam. Membiarkan nya tahu, bahwa aku bersyukur dipertemukan dengan nya. Terlebih lagi, aku ingin dia merangkul rasa yang kubawa.

Namun, kamu juga harus tahu.

Hal terakhir perihal rasa adalah terkadang rasa menuntut untuk dilepaskan.